Langsung ke konten utama

Sekali untuk Selamanya (2010)




     Seorang teman suatu hari mengajak saya untuk membuat video promosi bagi event pembuatan novel yang diselenggarakan oleh GagasMedia. Namanya Dian. Novel yang ia kirimkan harus dibuatkan video promosinya dan untuk itulah fungsi video ini sebenarnya. Kalau melihat contoh video promosi yang dikirimkan peserta lain, itu hanya terpaku pada kamera yang merekam dirinya sendiri dan mulai wawancara pribadi tentang keunggulan novel mereka. Tapi, apa salahnya kita mencoba membuat video promosi yang berbeda? *keluar tanduk


     Mengajak Intan dan Andy Putera sebagai pemerannya, saya mencoba mengaplikasikan cerita dari novel untuk dimasukkan ke dalam video. Berakhir dengan sebuah amplop yang pada akhirnya menceritakan kisah sebenarnya dari peran yang dimainkan oleh para aktris. Tentu saja isi amplopnya adalah novel yang bertitel ‘Sekali Untuk Selamanya’. (namanya juga video promosi, jadi yang pada akhirnya harus dipromosikan tentu saja novelnya :D) . Jadi kalau lagi senggang, boleh banget koq dipantengin videonya. Dan kalau ada produser yang tertarik dengan ceritanya, bisa langsung menghubungi teman saya Dian :D Cihuy!

Komentar

Dian Purnama mengatakan…
Hahahahhah.. Many thanks, Yud... Sumapah aku merasa konyol inget2 waktu kita berempat negrjain video itu.wkwkwkwkwkk..
@dian : hahaha... ini kerjaan orang jenius koq :) berarti kita semua jenius :D yeah!

Postingan populer dari blog ini

Puisi Anonymous – Sahabat

     Aku lupa kapan pernah pergi ke salah satu SD di daerah Sudirman, Denpasar. Karena harus mengurus suatu urusan yang belum terurus, jadilah waktuku harus teralokasikan sedari pagi disana. Dalam postingan kali ini, sesungguhnya dan sebenarnya, tidak bercerita tentang kegiatan yang kulakukan di SD bersangkutan. Namun lebih kepada puisi tempel dinding yang sekejap mengambil perhatianku dan mematungkan diriku dengan setiap kalimat didalamnya. Sangat polos. Sangat jujur. Sangat keren. 

Soe Hok Gie : Catatan Seorang Demonstran (Resensi) - 2012

makanan ringan + bacaan berbobot       “ Saya dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik…” Sebuah catatan pada tahun 1957 tercipta dari tangan seorang generasi Indonesia keturunan Cina. Namanya Soe Hok Gie. Seseorang yang hidup pada era orde lama yang selanjutnya menjadi salah satu tokoh penting dalam pergerakan perubahan yang terjadi di Indonesia saat itu.

Diperkosa angin di Batur yang dingin

     “Beneran nih ga apa? Serius nae yud,” suara seorang pemuda tanggung memecah suasana di balebengong sekitar kawasan pos jaga Batur. “Sante aja be, ‘mereka’ pasti datang. Tapi cuma ngeliatin aja koq,” jawabku di sebelahnya diikuti pandangan menunggu dari 1 pemudi dan 2 pemuda lainnya. “Oke, gini ceritanya, waktu itu aku dan adikku pernah ngeliat bayangan hitam gede banget waktu lewat di jalan (tiit),” pemuda yang bernama Abe itu pun memulai ceritanya. “Terus?,” tunggu pemuda lain yang bernama Kris sambil mulai memperhatikan dengan seksama si pemberi cerita. “Awalnya ku kira itu orang yang lagi diem di belakang pohon, eh, ga taunya…” mulai mencondongkan tubuhnya dan… PLAK! “Huwaaa! Apa tuuu?” baik Abe, Kris, pemudi yang bernama Novita, dan pemuda lain yang bernama Rendra lompat dari posisi mereka dan menubruk aku yang berada paling jauh dari suara berdebam tiba – tiba itu. “Tuh kan, iseng banget sih kalian cerita horor di jam 12 malam di kaki gunung Batur...