Senin, 22 Desember 2014

Hari Ibu, Tulisan dan Agama



Gung Byang Mirah

Postingan ini muncul secara spontan di hari ini. Di hari Ibu. Sebuah hari yang dimana semua anak diseluruh dunia melihat ibu mereka sebagai sosok yang sangat berjasa dalam kehidupan. Sejatinya kita semua telah menghargai ibu kita masing – masing. Namun perlu rasanya dibuat semacam selebrasi seperti hari ibu ini . Yah, seperti tahun baru ataupun ulang tahun yang selalu dirayakan dengan menyenangkan.

Postingan tentang ibu pernah saya muat di sini. Semacam kilas balik yang membuat saya berfikir kembali bahwa kehadiran seorang ibu merupakan sesuatu yang sangat penting bagi diri seorang anaknya. Apalagi ketika waktu menjadi sebuah penentu pertemuan mereka. Mata saya mengekor aktivitas ibu saya bersembahyang dan keluar bersama aji (panggilan untuk ayah) menuju ke suatu tempat. Melihat kondisi ibu maupun aji yang sehat dan tetap kompak membuat saya semakin bersyukur.
Gung Aji Putra

Waktu berlalu dan kemudian saya mengerjakan sebuah tulisan. Sebuah tulisan untuk tugas kampus. Di rumah dan seorang diri. Sengaja televisi saya hidupkan namun tidak difokuskan hanya agar suasana rumah terdengar lebih ramai. Walau juga kadang jenuh dengan acara hingar – bingar tanpa fungsi. Kadang terbersit informasi menyenangkan tentang hari ibu. Yah, sesuatu yang berhubungan dengan ibu selalu membuat nyaman. Sampai satu dua berita yang berhubungan dengan konflik yang mengatasnamakan agama. Entah. Kebetulan ataupun tidak. Semacam bersinggungan dengan tulisan yang sedang saya buat. Tulisan tentang sistem pengendalian sosial dan religi. Mungkin tulisan ini bisa saya bagi sebagai bahan perenungan kita bersama. Maafkan jika salah kata dan pengertian. Ini hanyalah sebuah pemikiran yang muncul secara spontan di hari Ibu. Selamat Hari Ibu.
Jero Gandapura, 22 Desember 2014.




Masyarakat memerlukan agama / kepercayaan sebagai media untuk mendekatkan diri dengan hal yang bersifat religi. Konsep religi adalah sesuatu yang bersifat personal terhadap diri sendiri. Agama memiliki kaedah dalam mewadahi hal tersebut. Sesungguhnya agama dibuat sebagai jalan untuk mencapai tujuan. Sama seperti kepentingan – kepentingan lain yang dibuat manusia. Agama sejatinya bukanlah tujuan. Agama merupakan jalan untuk mencapai tujuan yang dimana adalah kedamaian hakiki pada diri sendiri. Agama dapat membawa keharmonisan jikalau manusia yang memiliki agama tersebut telah mengetahui dari eksistensi agama yang ia anut. Eksistensi bukan dari seberapa banyak isi kitab suci agama yang telah dikonsumsi atau seberapa banyak telah berdoa sesuai waktu agar tidak mendapat neraka. Namun lebih kepada makna agama sebagai pembawa kedamaian pada diri sendiri dan orang lain. Agama tumbuh berkembang beragam di dunia ini. Banyaknya agama bukan menjadi masalah. Karena lewat keberagaman agama telah menunjukan bahwa perbedaan itu mutlak dan perbedaan mampu menciptakan kedamaian. Tidak ada agama yang paling benar karena sejatinya manusia lahir berbeda. Agama yang berbeda hanya mengakomodasi perbedaan – perbedaan tersebut. Kitab suci agama yang beragam bahasa nan jumlahnya serta berbagai cara orang sembahyang melalui jalan agamanya sesungguhnya memiliki makna sama. Agama adalah jalan menuju kedamaian. Kedamaian didapatkan bukan dari pemaksaan, penindasan maupun cara penekanan lain atas nama apapun apalagi agama. Jika semua menyadarinya, keharmonisan bukan menjadi barang langka untuk kedepannya.

Namun masih saja kita melihat fenomena kekerasan atas nama agama. Apakah ini merupakan kesalahan dari agama yang berbeda sehingga memunculkan konflik? Atau terdapat faktor lain yang kadang tidak kita sadari?

Kepentingan mutlak ada dalam diri manusia. Isi kepala yang berbeda sudah tentu memunculkan keinginan yang berbeda. Unsur politis keinginan dan kepentingan tersebut kemudian bertransformasi dengan memakai media lain. Salah satunya agama. Agama adalah sebuah konsep untuk membantu manusia dalam mencapai kedamaian religi. Tidak dinyana, manusia dalam melakukan sesuatu memerlukan tuntunan. Layaknya bayi yang belajar berjalan kemudian dituntun oleh orang tuanya. Karakteristik penuntunan ini yang kemudian meresap dalam benak setiap manusia bahwasanya semua memerlukan tuntunan agar dapat mencapai lebih maksimal atas apa yang diinginkan. Untuk mencapai keinginan ini juga, manusia memerlukan tuntunan / media yang tepat. Agama juga kerap menjadi media bagi masyarakat untuk mencapai tujuannya. Pada tahap ini agama telah bergeser fungsinya menjadi alat politis manusia. Pada tahap ini pula agama tidak berbicara mengenai kedamaian namun penuh dengan kepentingan. Perlu disadari bahwa konflik yang terjadi karena agama bukan karena kesalahan dari agamanya namun merupakan tanggung jawab manusia pemilik kepentingan yang menggunakan agama terkait guna meraih tujuan mereka.

Konflik yang terjadi karena agama dipolitisasi telah banyak terjadi di muka bumi ini. Fenomena dalam negeri seperti ormas ekstrem yang menyebarkan kekerasan atas nama agama, pelarangan mengucapkan selamat hari besar keagamaan bagi teman – teman yang memiliki agama berbeda, kerusuhan Poso yang dilatarbelakangi perbedaan agama yang dipolitisasi, penghinaan antar agama yang terjadi sampai luar negeri, teror ISIS yang memakai tafsir agama secara keras, kerusuhan Myanmar atas nama dua agama berbeda serta berbagai fenomena lainnya. Namun ketika diperhatikan lebih dalam, kerusuhan yang mengatasnamakan agama sejatinya bukan anjuran dari agama yang bersangkutan. Selalu ada kepentingan baik kepentingan kelompok maupun kepentingan pribadi di dalamnya. Karena kembali lagi bahwa agama adalah jalan untuk menuju kedamaian. Tidak ada alasan yang dibenarkan untuk mencapai kedamaian bukan melalui cara penekanan, penindasan dan teror. Jika pembenaran itu ada maka itu adalah alasan yang dibuat dari masyakat yang memiliki pola pikir keliru (error).

Tidak ada komentar: