Sabtu, 19 Januari 2013

Perenungan Perak



     Apa yang spesial di tanggal 10 Januari 2013 ? Bagi aku, jelas, itu adalah momen di mana aku bertambah tua dan dirayakan dengan suka cita. Orang menyebutnya ulang tahun. Sungguh aneh memang, manusia mengarungi langkah kedepan dalam perulangan waktu dan jelas – jelas akan bertambah tua, eh, malah dirayakan :)) Sudahlah. Tua itu pasti, dewasa itu mesti. Di umur yang perak ini aku mesti berfikir dan berperilaku sedikit berbeda dari umur – umur sebelumnya. 25 itu bukan remaja lagi apalagi anak – anak. Seperti batas. Aku merasa umur 25 seperti awal mula pola kehidupan berbeda. Kalau diandaikan umur manusia itu 100 tahun dan dibagi 4 fase kehidupan, maka umur 25 adalah fase kedua dari kehidupan.


     Berbicara umur, rasanya aneh jika melihat beberapa waktu belakangan. Aku masih ingat ketika berumur satuan dan belasan, otak ini hanya penuh oleh bermain dan belajar. Jika tak ada sekolah mungkin aku akan bermain habis – habisan. Sempat kesal jika dipaksa sekolah disaat masih mengantuk. Merasa marah ketika diberikan pr (pekerjaan rumah) yang banyak. Takut saat masuk lingkungan baru. Begini begitu, segala macam dengan berbagai perasaan yang beradu.

     Memasuki akhir belasan menuju kepala dua, terjadi guncangan lagi yang disebut remaja. Mengenal daya tarik dengan lawan jenis walaupun masih selevel monyet. Belajar bertanggung jawab kepada orang lain (kalau dulu tanggung jawab lebih banyak untuk diri sendiri). Merasa canggung sekaligus takut jika mengambil video shoot di kuburan atau tempat angker #yang ini serius:) Senang menemukan rekan yang bisa diajak bekerja sama. Yah, sebuah pola lika liku masa sd – smp – sma yang cetar membahana.

     Lulus sma, satu langkah dalam dunia yang “sedikit” berbeda. Semuanya menjadi lebih konkrit di masa ini. Aku benar – benar bisa memilih. Tidak ada lagi peraturan seperti sekolah S3 (sd – smp – sma) dulu. Apa yang kumau bisa saja kulakukan saat itu. Aku bisa sekolah lagi dengan rajin atau menjadi berandalan dan drop out. Atau mencoba pengalaman lain? Membantu orang tua mencari penghasilan dengan bekerja. Mungkin bersenang – senang? Ya, melanjutkan masa senang – senang yang terampas karena harus belajar formal 12 tahun. Atau aku ingin menjadi masyarakat mainstream? Mengambil kuliah dan berharap lulus lalu bekerja di tempat bonafit. Yah, apapun yang bisa terjadi. Aku bebas memilih walaupun dengan sedikit saran dari sana – sini. Sayangnya saat itu pemikiranku masih mainstream. Aku pun kuliah.

     Kuliah pertamaku bermasalah. Bukan dengan aku nya tapi dengan institusi terkait. Korupsi. Siapa juga mau hasil jerih payah orang tua disedot tanpa diimbangi kualitas pendidikan yang mumpuni? Aku protes. Aku pun mulai berani memutuskan. Memutuskan keluar dari institusi pendidikan itu. Memutuskan mendapatkan tempat kuliah lain demi meredakan kemarahan orang tua karena keputusan sepihakku itu. Memutuskan untuk ikut ujian dan (berharap) lolos dalam daftar mahasiswa baru di salah satu universitas.

     Berbekal otak apa adanya, aku pun masih ingat ketika berinisiatif merubah pola hidup sebulan menjelang tes masuk. Berbekal buku latihan soal yang kubeli di toko diskon, aku melakukan pola belajar ketat. Setiap hari selama 2 jam. (well, 2 jam itu cukup berat bagiku) Dari jam 8 malam hingga 10 malam. Sungguh merasa terpacu. Aku bersaing dengan waktu. Jika gagal, tidak mungkin rasanya aji dan ibu bangga kepadaku. Begitu pikirku, waktu itu.

     Hari yang dinanti tiba. Aku mengikuti ujian dan singkat cerita aku resmi menjadi calon mahasiswa di kampus negeri. Tanpa suap karena… apa yang mau kujadikan bahan suap? Hanya niat dan harapan ditambah buku diskon yang entah berada dimana sekarang. Hari – hari berikutnya kujalani sebagai mahasiswa normal di awal usia kepala kuda, eh, kepala dua. 4 tahun kurang menyelami kehidupan bersama teman – teman baru. Suka, duka, cita, rasa dan sebagainya bercampur menjadi adonan bekal pengalaman untuk kedepan. Di masa ini aku merasa sangat berterima kasih pernah menjalani masa kecil yang penuh ‘tekanan’. Tekanan belajar, dipaksa bertanggung jawab, menghargai hak, berempati pada hal yang memang harus diberikan simpati, dan beribu – ribu bekal lain yang kudapat. Aplikasinya semua telah diterapkan di masa ini secara total. Andaikan dulu belum pernah seperti dulu, ah, entah apa jadinya aku sekarang…

     Setelah kuliah lalu bekerja. Diselingi membuat video dan ngeband. Dua aktivitas terakhir sudah muncul mulai dari sma kemudian berlanjut kuliah. Area penyaluran di luar kegiatan formal. Juga muncul pemikiran – pemikiran nakal yang menggebu – gebu untuk mendobrak kehidupan yang monoton di masa ini. Kegelisahan menolak kemonotonan berujung pada mimpi. Mimpi – mimpi yang ingin kuraih ketika umurku bertambah nanti. Semakin deras menghujam bersamaan dengan kehidupan pasca kuliah.

     Hingga kini mimpi – mimpi itu ternyata masih ada. Beberapa hal yang dulu pernah kugaungkan, setengahnya telah kudapatkan tanpa sadar. Mungkin karena mimpi saat itu masih abstrak. Rencana ke depan harus konkrit. Tidak ada lagi guru formal mengarahkan atau teman sekolah yang mengajak beramai – ramai. Semua harus terencana dan kujalankan sebaik mungkin. Percuma saja bisa men-direct video tapi men-direct kehidupan sendiri fail. Kugali lagi mimpi – mimpi itu. Apa saja yang ingin kuraih untuk kedepannya? Perlahan namun pasti, semua keluar seperti tetesan stalaktit. Mimpi lama bangkit kembali berkolaborasi dengan mimpi – mimpi baru.

     Saat ini umurku seperempat abad. Not bad. Dulu orang seusia ini kulihat sangat dewasa dan mapan. Tahu tentang segala macam dan siap jika diposisikan di situasi apapun. Saat itu aku 17 tahun. Kini aku 25 tahun. Teori abal – abal itu terbantahkan setelah berkaca pada diri sendiri. Tidak sendiri namun ada beberapa teman yang mengalami hal sama. Mungkin apa yang kupikirkan dahulu kini juga dirasakan oleh abegehabegeh 17 – 18 tahun ketika melihat manusia berusia 25 tahun di hadapan mereka. Who knows? Tell me when I’m wrong.

     25 tahun sudah kutapaki di tahun ini. Masih banyak yang belum dijalani dari mimpi yang telah kurangkai. Setidaknya saat ini belum terlambat untuk melanjutkan kembali. Dibalik sendu cahaya lampu yang redup karena kedatangan dedalu, rasa kantuk pun membelenggu  Menandakan malam semakin berkuasa. Sambil merenungkan hari besar perulangan tahun yang bertepatan di hari raya Siwaratri kemarin, Aku pun menyadari, secara jujur, aku masih perlu banyak belajar dalam kehidupan ini. Juga merangkai (lagi) mimpi yang perlahan muncul dari masa lalu.

Terima kasih kue nya Sukma Imma cantik :p




2 komentar:

Tara Anggita mengatakan...

hmmmm td kk blg ttg knpa ultah dirayakan padahal jelas-jelas kita tambah tua. jawabannya: dirayakan karena kk berhasil ngelewatin 1 tahun terakhir dengan bersahaja! semangat kak! kalo kk berhasil 1 tahun ini, tahun depan pasti dirayakan lg

A.A Ngr. Bgs. Kesuma Yudha mengatakan...

@Tara : Wahaha :) bisa jadi ya? eum, keberhasilannya dilihat dari apa ya? --!