Kamis, 02 Desember 2010

Cerita Senja


     Sore itu dia terbangun dengan keringat yang mengucur. Masih terlalu jauh baginya jika harus menyelesaikan jatah tidur siangnya. Sambil linglung dia bangkit dan mulai mencari segelas air putih untuk menghapus dahaganya.

  
      “Panasnyaaa….”, sambil ngedumel dia terus membetulkan posisi kepalanya yang kadang miring kanan, miring kiri sekedar untuk menghilangkan pusing setelah terbangun tiba – tiba. Saat itu jam menunjukkan pukul 17.45 waktu setempat. Namun yang berbeda dari saat itu adalah suasana sore yang berwarna merah. Dirinya terpaku melihat gradasi warna laten yang menguasai langit didepannya. Sambil terus minum Ia mulai meneliti fenomena itu di angkasa. Matahari yang terhalang sinarnya oleh awan cumulonimbus memberikan pemandangan yang mengasyikkan bagi manusia acak – acakan yang ada di bawahnya. 

    “Sepertinya ntar bakalan hujan deh”, Ujarnya seperti berkumur. Sambil mengingat mimpi absurd yang dialaminya tadi, pesona langit senja itu tetap menghipnotis matanya seakan – akan takut untuk tak dapat lagi dinikmati. Angin hangat senja memberikan sensasi yang cukup aneh saat bersentuhan dengan kulit. Nuansanya cukup klasik. Bukan dingin bukan juga panas. Seperti sedang beradu dalam satu waktu, matahari senja yang menurun semakin menegaskan perannya sebagai objek utama yang harus dinikmati lewat pemandangan langit merah yang terkadang berubah warnanya menjadi oranye.
40 menit berlalu. Warna merah itu telah pudar. Berbaur dengan sang awan yang kini telah menjadikan langit menghitam. Sungguh tak ada pemandangan yang bisa dinikmati. Seakan awan enggan beranjak dari tempatnya seperti matahari. Langit seakan terbungkus sesuatu. Tak diijinkan untuk melihat bintang. Tak diijinkan untuk menikmati indahnya sinar bulan. Hanya sebuah – dua buah kilatan cahaya menyilaukan yang berkedip di antaranya. Disusul suara gelegar yang diketahui sebagai petir. Rintikan air pun turun. Semakin lama semakin ramai. Menimbulkan beat konstan yang terus bertambah volumenya. Suasana kini semakin dingin. Setelah dikagetkan oleh suara petir ke tiga, dia pun tersadar dari lamunannya. Didapatkan dirinya duduk meringkuk sambil memeluk kakinya erat. Dia sadar satu hal. Dia begitu merindukan suasana senja. Dia kadang lupa untuk menikmati suasananya. Karena biasanya dia selalu terfokus oleh malam. Malam favorit yang diselingi oleh hujan yang selalu dapat ia nikmati dari balik jendela kamarnya. Dan untuk saat ini dia mulai memikirkan keindahan dan kerinduannya pada suasana senja. Suasana senja yang datang hanya sekilas namun sangat membekas di ingatannya kini. Saat dia terbangun, dia kembali melihat langit. Suasana hujan malam kegemarannya telah datang. Tapi seperti ada yang hambar dari situasi itu. Dia lebih menikmati suasana senja barusan. Suasana yang mampu membuatnya membeku untuk menikmati dan mengiringi perginya senja memerah di angkasa. (yo)

4 komentar:

ayu diah cempaka mengatakan...

buiiikkk..
mangstab manehh !!
hahaha
jung yudha so melancoliee..
:p
lanjutkan, jung !!

Media Imajinasi mengatakan...

hahaha, arigatou gek...
masih harus belajar dari master nya nieh... hohoho :P
*lirik little journey

ayu diah cempaka mengatakan...

heh!
lirik - lirik..
bayarrr..
haha
:p

Media Imajinasi mengatakan...

Bbbuuueeeh....

T,T
masternya ga maw ngajariiin....