![]() |
Gung Byang Mirah |
Postingan
ini muncul secara spontan di hari ini. Di hari Ibu. Sebuah hari yang dimana
semua anak diseluruh dunia melihat ibu mereka sebagai sosok yang sangat berjasa
dalam kehidupan. Sejatinya kita semua telah menghargai ibu kita masing –
masing. Namun perlu rasanya dibuat semacam selebrasi seperti hari ibu ini .
Yah, seperti tahun baru ataupun ulang tahun yang selalu dirayakan
dengan menyenangkan.
Postingan
tentang ibu pernah saya muat di sini. Semacam kilas balik yang membuat saya
berfikir kembali bahwa kehadiran seorang ibu merupakan sesuatu yang sangat
penting bagi diri seorang anaknya. Apalagi ketika waktu menjadi sebuah penentu
pertemuan mereka. Mata saya mengekor aktivitas ibu saya bersembahyang dan keluar bersama aji
(panggilan untuk ayah) menuju ke suatu tempat. Melihat kondisi ibu maupun aji
yang sehat dan tetap kompak membuat saya semakin bersyukur.
![]() |
Gung Aji Putra |
Waktu
berlalu dan kemudian saya mengerjakan sebuah tulisan. Sebuah tulisan untuk tugas
kampus. Di rumah dan seorang diri. Sengaja televisi saya hidupkan namun tidak
difokuskan hanya agar suasana rumah terdengar lebih ramai. Walau juga kadang
jenuh dengan acara hingar – bingar tanpa fungsi. Kadang terbersit informasi
menyenangkan tentang hari ibu. Yah, sesuatu yang berhubungan dengan ibu selalu
membuat nyaman. Sampai satu dua berita yang berhubungan dengan konflik yang
mengatasnamakan agama. Entah. Kebetulan ataupun tidak. Semacam bersinggungan
dengan tulisan yang sedang saya buat. Tulisan tentang sistem pengendalian
sosial dan religi. Mungkin tulisan ini bisa saya bagi sebagai bahan perenungan kita
bersama. Maafkan jika salah kata dan pengertian. Ini hanyalah sebuah pemikiran
yang muncul secara spontan di hari Ibu. Selamat Hari Ibu.
Jero Gandapura, 22 Desember 2014.
Masyarakat
memerlukan agama / kepercayaan sebagai media untuk mendekatkan diri dengan hal
yang bersifat religi. Konsep religi adalah sesuatu yang bersifat personal
terhadap diri sendiri. Agama memiliki kaedah dalam mewadahi hal tersebut. Sesungguhnya
agama dibuat sebagai jalan untuk mencapai tujuan. Sama seperti kepentingan –
kepentingan lain yang dibuat manusia. Agama sejatinya bukanlah tujuan. Agama
merupakan jalan untuk mencapai tujuan yang dimana adalah kedamaian hakiki pada
diri sendiri. Agama dapat membawa keharmonisan jikalau manusia yang memiliki
agama tersebut telah mengetahui dari eksistensi agama yang ia anut. Eksistensi bukan
dari seberapa banyak isi kitab suci agama yang telah dikonsumsi atau seberapa
banyak telah berdoa sesuai waktu agar tidak mendapat neraka. Namun lebih kepada
makna agama sebagai pembawa kedamaian pada diri sendiri dan orang lain. Agama
tumbuh berkembang beragam di dunia ini. Banyaknya agama bukan menjadi masalah.
Karena lewat keberagaman agama telah menunjukan bahwa perbedaan itu mutlak dan perbedaan
mampu menciptakan kedamaian. Tidak ada agama yang paling benar karena sejatinya
manusia lahir berbeda. Agama yang berbeda hanya mengakomodasi perbedaan –
perbedaan tersebut. Kitab suci agama yang beragam bahasa nan jumlahnya serta
berbagai cara orang sembahyang melalui jalan agamanya sesungguhnya memiliki
makna sama. Agama adalah jalan menuju kedamaian. Kedamaian didapatkan bukan
dari pemaksaan, penindasan maupun cara penekanan lain atas nama apapun apalagi
agama. Jika semua menyadarinya, keharmonisan bukan menjadi barang langka untuk
kedepannya.
Namun
masih saja kita melihat fenomena kekerasan atas nama agama. Apakah ini
merupakan kesalahan dari agama yang berbeda sehingga memunculkan konflik? Atau terdapat
faktor lain yang kadang tidak kita sadari?
Kepentingan
mutlak ada dalam diri manusia. Isi kepala yang berbeda sudah tentu memunculkan
keinginan yang berbeda. Unsur politis keinginan dan kepentingan tersebut kemudian
bertransformasi dengan memakai media lain. Salah satunya agama. Agama adalah
sebuah konsep untuk membantu manusia dalam mencapai kedamaian religi. Tidak
dinyana, manusia dalam melakukan sesuatu memerlukan tuntunan. Layaknya bayi
yang belajar berjalan kemudian dituntun oleh orang tuanya. Karakteristik
penuntunan ini yang kemudian meresap dalam benak setiap manusia bahwasanya
semua memerlukan tuntunan agar dapat mencapai lebih maksimal atas apa yang
diinginkan. Untuk mencapai keinginan ini juga, manusia memerlukan tuntunan /
media yang tepat. Agama juga kerap menjadi media bagi masyarakat untuk mencapai
tujuannya. Pada tahap ini agama telah bergeser fungsinya menjadi alat politis
manusia. Pada tahap ini pula agama tidak berbicara mengenai kedamaian namun
penuh dengan kepentingan. Perlu disadari bahwa konflik yang terjadi karena
agama bukan karena kesalahan dari agamanya namun merupakan tanggung jawab
manusia pemilik kepentingan yang menggunakan agama terkait guna meraih tujuan
mereka.
Konflik yang terjadi karena agama dipolitisasi
telah banyak terjadi di muka bumi ini. Fenomena dalam negeri seperti ormas ekstrem
yang menyebarkan kekerasan atas nama agama, pelarangan mengucapkan selamat hari
besar keagamaan bagi teman – teman yang memiliki agama berbeda, kerusuhan Poso
yang dilatarbelakangi perbedaan agama yang dipolitisasi, penghinaan antar agama
yang terjadi sampai luar negeri, teror ISIS yang memakai tafsir agama secara keras, kerusuhan
Myanmar atas nama dua agama berbeda serta berbagai fenomena lainnya. Namun
ketika diperhatikan lebih dalam, kerusuhan yang mengatasnamakan agama sejatinya
bukan anjuran dari agama yang bersangkutan. Selalu ada kepentingan baik
kepentingan kelompok maupun kepentingan pribadi di dalamnya. Karena kembali
lagi bahwa agama adalah jalan untuk menuju kedamaian. Tidak ada alasan yang
dibenarkan untuk mencapai kedamaian bukan melalui cara penekanan, penindasan
dan teror. Jika pembenaran itu ada maka itu adalah alasan yang dibuat dari
masyakat yang memiliki pola pikir keliru (error).
Komentar