Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Suka - Suka

AWAS! Wabah Pentol Korek Mengintai!

Pemikiran ini bermula setengah dekade yang lalu ketika saya baru saja menyelesaikan pendidikan strata satu di sebuah universitas di Bali. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, sejenak diri ini mendapatkan lebih banyak waktu untuk menengok ke segala sisi dan menelisik lebih jauh tentang apa yang terlewat semasa dahulu sibuk berkutat dengan tugas kuliah, organisasi, maupun berbagai kegiatan berguna dan tak berguna lainnya. Dengan kata lain, selepas acara wisuda, waktu saya menjadi lebih banyak lowong sambil menyambi kerja di sebuah organisasi seni di bilangan daerah wisata di Bali.

Film maker – Half time Lecture – Full time Rocker

            Beberapa tahun lalu saya adalah mahasiswa tingkat akhir yang merangkak perlahan menyelesaikan skripsi. Beberapa tahun sesudahnya, saya kembali menjadi penggiat film yang pernah digeluti bertahun yang lalu. Berbulan yang lewat saya menjadi dosen untuk sebuah institusi setelah menyelesaikan tesis yang cukup mencekik. Beribu detik selanjutnya saya berada dalam formasi Duo Rock, MR HIT.             Duo Rock? Ya. Dua orang yang memainkan musik rock. Drum dan gitar. Itu saja. Aneh? Ga masalah. Yang penting Pede. Selain itu ternyata ini sangat membantu menghilangkan jenuh di tengah kegiatan akademis yang kadang menyita perhatian. Pagi nya boleh lah berpakaian rapi dengan etika layaknya soko guru yang siap membantu memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Selanjutnya diakhiri dengan loncat - loncat di atas panggung dan teriak - teriak sampai serak. Tapi Puas! btw, Sekarang MR HIT ber empat loh. hahaha... akhirnya kita ...

Pengkotakan Sosial yang ditampar Agama Baik

Masyarakat memerlukan agama / kepercayaan sebagai media untuk mendekatkan diri dengan hal yang bersifat religi. Bagi saya religi tersebut bukan semata mata membicarakan agama namun lebih kepada perasaan personal terhadap apa yang anda yakini. Ada beberapa sudut dalam diri manusia yang tidak akan selalu mampu dinalar dengan hitungan dan logika yang pasti. Suatu ruang yang diperlukan untuk hidup dan berfikir secara independen dan mengaitkan dirinya dengan keberadaan alam semesta yang luas ini. Sampai saat ini, agama dan kepercayaanlah yang mampu memberi bagian untuk itu. Contohlah ketika kita bingung harus bertindak seperti apa padahal segala cara sudah kita tempuh, alhasil kita akan berserah diri pada suatu kekuatan di luar diri dan memohon yang terbaik.

Agama HAM dan Krisis Toleransi dalam Masyarakat Sosial Media

2016. Masa ketika tulisan ini dibuat, penulis sedang berada di dalam suasana yang modern. Mulai dari penyampaian pesan yang sangat cepat, Batas dunia yang semakin tipis. Gadget canggih yang bertebaran namun tidak dibarengi dengan kesiapan mental yang cukup. Penulis sadar bahwa tidak ada yang salah dengan itu. Perubahan adalah hal yang selalu terjadi dan menjadi hakim atas semua kemungkinan kehidupan manusia di dunia. Apa yang ada dalam kepala ketika teringat masa dimana kehidupan begitu sederhana menjadi berbeda saat membuka mata dan melihat keadaan sekitar di jaman ini. Smartphone yang didaulat sebagai piranti canggih tidak serta merta dimiliki pengguna yang juga smart . Berbagai informasi dapat ditilik dan dinilai secara individu. Pergeseran mental, isu SARA, modifikasi sejarah merupakan sedikit hal dan pengaruh yang diterima oleh kita saat ini. Lewat sebuah piranti dengan besarnya yang tidak lebih dari 6 inch , masyarakat kita sudah belajar banyak. Masyarakat kita sudah le...

Hari Ibu, Tulisan dan Agama

Gung Byang Mirah Postingan ini muncul secara spontan di hari ini. Di hari Ibu. Sebuah hari yang dimana semua anak diseluruh dunia melihat ibu mereka sebagai sosok yang sangat berjasa dalam kehidupan. Sejatinya kita semua telah menghargai ibu kita masing – masing. Namun perlu rasanya dibuat semacam selebrasi seperti hari ibu ini . Yah, seperti tahun baru ataupun ulang tahun yang selalu dirayakan dengan menyenangkan. Postingan tentang ibu pernah saya muat di sini . Semacam kilas balik yang membuat saya berfikir kembali bahwa kehadiran seorang ibu merupakan sesuatu yang sangat penting bagi diri seorang anaknya. Apalagi ketika waktu menjadi sebuah penentu pertemuan mereka. Mata saya mengekor aktivitas ibu saya bersembahyang dan keluar bersama aji (panggilan untuk ayah) menuju ke suatu tempat. Melihat kondisi ibu maupun aji yang sehat dan tetap kompak membuat saya semakin bersyukur.

Ber - kontemplasi Bali saat Galungan

Sebenarnya postingan ini muncul tidak disiapkan secara khusus. Kebetulan saya sedang membuat tugas kampus yang harus dikumpul jumat lusa. Iseng ingin refreshing sekilas malah terbersit pikiran – pikiran ringan seperti biasanya.

MR HIT - Siaga Mental

Sebuah kolaborasi independen dari dua orang pemuda. Agung Yudha dan Indra Permana. Dibantu dengan ikhlas dari teman – teman yang sangat berjasa. Kami dari MR HIT. Terimalah ini sebagai tanda perkenalan kami. Jakarta, 25 Agustus 2014

Bergerilya Bersama Ngurah Rai

     Kalau di analogikan, buku 'Bergerilya Bersama Ngurah Rai' termasuk dalam kategori action. Sedikit drama di beberapa bagian. Tapi bukan drama alay versi televisi masa kini. Penceritaannya sangat humanis juga masuk akal. Tidak heran karena sang penulis merupakan pelaku utama dari isi buku ini. Beliau bernama I Gusti Bagus Meraku Tirtayasa. Pak Tirtayasa juga adalah anak buah dari Overste I Gusti Ngurah Rai. Karakter yang juga menjadi fokus cerita dari buku yang berjudul sama ini.

Kumalagita

Kumalagita [Part 1] Kumalagita [Part 2]      Pertengahan tahun 2013 kemarin, saya memiliki pengalaman yang sangat menyenangkan. Nama pengalaman itu adalah Kumalagita. Projek band yang anggotanya merupakan comotan dari teman – teman dekat seperti Willy, Yoga, Risky dan Indra. Mereka asyik. Keasyikan itu bisa dilihat selanjutnya dari video di atas.

Pekak Made Taro, Gending Rare dan Emoni Bali

           Gending Rare atau lagu anak – anak merupakan salah satu budaya lisan yang mengakar di kehidupan bermasayarakat di Bali. Lewat gending rare, anak – anak mengerti, belajar dan bermain. Bahkan memang seharusnya anak – anak mendapatkan konsumsi yang pantas di usia mereka yang sedang gemar – gemarnya mencari tahu berbagai fenomena sekitar. Gending Rare memfasilitasi itu. Namun seiring perkembangan jaman, teknologi dan modernisasi seakan menggeser pelan – pelan dari salah satu produk lokal bernama gending rare.

Panduan Hidup Sehat

     Postingan ini dibuat di Bulan Desember. Bulan Desember biasanya musim hujan. Musim hujan identik dengan basah. Kalau badan manusia terlalu basah atau terlalu kering, waah, sakit deh jadinya. Makannya, sebelum sakit, mari kita karaokean dulu. Klik Play lalu bertemulah dengan dokter, mbah sakti dan pasien seksi di panduan hidup sehat ini :D      Terima kasih kepada teman – teman dari UKM Kesenian Unud khususnya Rya as Mbah Sakti, Irmey as Pasien ingin sehat, Ary S. as Dokter, Raka as yang muterin kursi dan tukang piano ganteng berkacamata merangkap Sutradara yang sesungguhnya tidak bisa main piano. Mari hidup sehat di mulai dari hal – hal kecil   \m/  

Layaknya Api

     Aktif. Selalu bergerak. Layaknya api yang terus membakar. Entah, jika api merasa bahagia, kebahagiaannya akan merenggut kebahagiaan lain. Tidak bisa ditoleransi. Saat api menyadari apa yang dilakukannya, dia hanya melihat abu. Karena, memang tugasnya untuk membakar. Merubah tatanan. Menciptakan momentum baru setelah yang dilewatinya berubah.

Sendu Siang

Sendu siang. Panasnya matahari dengan angin dingin yang bergelayut. Bayanganku terpaku, melihat sang empunya gelisah menatap dinding kokoh yang tenang menjulang. Otak dengan pikiran pun melayang liar meliuk diantara aroma asa yang mengambang perlahan. Siang ini begitu pelan. Detak detik waktu melambat. Perlahan. Seperti terdengar meninggalkan degupan jantung yang mulai ikut menikmati nuansa. Iya. Siang ini terasa sendu.   Rasakan. Sembari kau menutup mata itu.

Berbisiklah...

Berbisiklah padaku sayang. Tentang semua harapan di masa depan.  Rangkul dengan erat, tanpa jeda jika kau bisa.  Ingin kulewati sebuah waktu yang terhenti hanya untuk menatap sepasang mata yang tulus.  Berdiri sama menyisir angin yang mengalir. Menatap kemilau oranye di sudut khatulistiwa.  Di sana sayang, ku harap kau mau meminjamkan pundakmu.  Sejenak. Membuatku nyaman.  Sekejap. Sebelum waktu kembali mengambil jati dirinya.  Sebentar saja, dalam sandaran pundakmu, berbisiklah padaku.

Gelap ini Introspeksi