Minggu, 22 Januari 2012

Tarot, ga melulu mesti mistis




     Awan menggelayut mesra di atas langit Denpasar. Sedikit keramaian menyertai kawasan jalan Kamboja saat jarum jam mengarah pukul 10 pagi. Derai tawa anak – anak SD meruak hingga keluar jalan. Di lokasi yang sama, suatu acara yang bernafaskan remaja digelar di tempat yang diketahui bernama Rumah Pintar. “Sepertinya acara ini bakalan lanjut sampai sore deh,” Batinku saat baru saja memarkir skuter lucu di depan pintu gerbangnya.


     Hilir mudik anak SMA menggawangi pemandangan di dalam Rumah Pintar. Stand berdiri kokoh dengan berbagai dekorasi yang berbeda disertai informasi dari setiap SMA yang ikut serta di acara DAKU (Dunia Remajaku Seru) ini. Derap langkah kupercepat menuju salah satu bilik tepat di belakang LCD projector terpasang. Disanalah aku kan beraksi. Ikut mengisi rangkaian acara DAKU dengan format fortune teller. Berbekal tarot dan niat, mulai kutunggu para pasien yang akan datang menghampiri. Susu Kemasan yang menjadi ‘sogokan’ tidak langsung oleh panitia lancar saja terteguk menuju lambungku yang jarang mendapat makanan tipe 5 sempurna. Tidak menunggu berapa lama, pasien pertama muncul.

minum susu biar sehat
     Dengan wajah riang pasien itu bertanya tentang kehidupan cinta. Kartu pun dikocok dan disebar. Melihat simbol yang tertata, tersungging senyum di bibir. Oh, jadi seperti ini ya? Memang tarot umumnya mempelajari simbol yang ada dikaitkan dengan kehidupan si penanya. Pemilihan kartu tarot pun secara pribadi dipilih oleh penanya itu sendiri. Dari pilihan kartu yang terambil, akan memuat beberapa simbol dan jika dirangkaikan dengan kisah si penanya, tarot bisa menjadi alternatif jawaban bagi setiap pertanyaan yang ditanyakan. Kalau ada yang menggunakannya untuk konsultasi (seperti aku), tarot merupakan media yang cukup unik dalam menjawab problematika setiap individu. Tidak ada sekalipun hal mistis yang menyertai. Kalaupun ada, mungkin memang bakat tukang tarot yang mengacu pada hal itu. Selain konsultasi, tarot juga dapat dipakai sebagai media lamar, eh, ramal – meramal ataupun media perenungan diri.

mulai sesi lawak, eh, tarot
     Dari pengalamanku selama 7 jam sebagai fasilitator konsultasi tarot dan palmistry (pembacaan garis tangan), bisa disimpulkan dominasi pertanyaan yang mereka (SMA) ajukan adalah soal cinta. Yep, cinta memang ‘ga pernah ada habisnya. Jenderal Tianfeng yang akhirnya menjadi Ti Pat Kai dan harus menjalani hukuman menemani Biksu Tong bersama Sun gokong dan Wuching ke Barat untuk mengambil kitab suci pun berawal dari masalah cintanya yang tak tersampaikan pada Cang E. “Beginilah cinta, deritanya tiada akhir,” ungkap nya saat melihat ke arah rembulan ketika rombongan Biksu Tong sedang beristirahat di suatu tempat. Kembali ke masa kini, dari sekian banyak pasien yang didominasi anak SMA, ada yang ingin tahu kisahnya dengan pacar, target yang diincar, ldr, ttm, hts, http, dll. Selanjutnya problem khas agak dewasa yang menyangkut masalah studi dan ekonomi menjadi dominasi selanjutnya.

inilah pasien nomor 41, ugh!
     Tidak dinyana ada juga masalah kehidupan pelik yang dimiliki beberapa pasien. Untuk ukuran umur 16 -17 tahun, mereka (sudah) harus menjalaninya dengan tegar. Emosi yang terpancar dari mata dan suara mereka pun merefleksikan betapa berat masalah yang mereka alami. Tubuh bergetar hingga akhirnya air mata menetes sebagai pertanda fisik dan batin mereka telah cukup lama berperang dengan masalah yang mereka hadapi. “Kakak, aku harus gimana?!” Tanya seseorang dengan sesenggukan sembari mengusapi air mata yang sudah membanjiri pipinya. Aku termenung. Aku berfikir. Aku pun menjawab.

ups, ketahuan deh :P
     Melihat ke belakang, ternyata sampai saat ini begitu banyak lika liku kehidupan yang kulihat melalui media tarot ini. Mulai dengan kasus remeh temeh yang sebenarnya sudah memiliki jawaban di depan hidung hingga  berbagai permasalahan yang levelnya, mungkin, berada jauh dari posisiku sekarang. Namun apapun masalah yang dihadapi, ada satu hal yang selalu terkandung dari setiap jawaban yang kuberikan. “Jangan menyerah terhadap masalahmu. Tuhan tidak akan pernah memberikan hal yang melampaui batas untuk kamu jalani. Pasti ada alasan kenapa aku, kamu dan mereka diberikan permasalahan beragam. Tidak lain agar kita semua menjadi lebih tegar dan lebih kuat untuk menghadapi kehidupan ini kedepannya”. Hingga sekarang, inilah caraku menggunakan tarot sebagai media pembelajaran (bagiku) untuk melihat dunia dari berbagai sisi dan cara alternatif untuk membantu orang lain. Semoga berguna. Semoga membantu.

ini tarotku, apa tarotmui? :)


jepretan oleh : @gungws

5 komentar:

Anonim mengatakan...

Setuju bgt...
Masalah justru membuat kita menjadi lebih kuat dan "besar"

A.A Ngr. Bgs. Kesuma Yudha mengatakan...

@anonim : ^^ semoga semua proses menjadikan kita semakin baik dari sebelumnya

Kadek Doi mengatakan...

wah saya mau donk dilamar,,eeh diramal xD

A.A Ngr. Bgs. Kesuma Yudha mengatakan...

@doi : eh, dilamar? uhukk.. oh, ramal.. bole , bole... :)

Wahyu tri widari mengatakan...

Aku pingin dibacain tarot nih lagi bimbang dan butuh saran. Bisa bantukah?