Selasa, 22 Maret 2011

Dia (cenderung) dikalahkan perasaannya

      Dua dekade yang lalu, awal dari semua cerita pada dirinya. Untuk pertama kalinya dia menangis dan merengek kepada dunia yang menyorotinya secara nyata. Selama sembilan bulan terakhir dia tertelungkup aman dengan sekat kulit perut dari rahim wanita yang membatasi dirinya dengan dunia. Ditangkup oleh tangan seorang bidan yang sigap, segera membersihkan tubuhnya dari darah dan untuk selanjutnya diserahkan pada ibunya. Saat itu dia mungkin belum sadar untuk apa dia lahir. Hem, mungkin jawaban untuk pertanyaan itu hanya BELIAU yang tahu. Tapi yang jelas, dia akan belajar banyak hal. Belajar melihat, berjalan, berbicara, belajar mengenal orang lain, belajar pelajaran sekolah, olahraga, logika, perasaan dan tentu saja hal lainnya.

      Pertama menyadari eksistensinya kedunia, dia hanya mencoba untuk mengikuti dan mengikuti. Hei, That’s just a baby. Darimana dia dapat belajar berjalan jika tak ada contoh ibunya yang bolak – balik membawa jemuran atau ayahnya yang setiap pagi selalu berjalan dari kamar tidur untuk pergi ke garasi? Awalnya dia merangkak, lalu diajari dan voila, jalan deh! Memang perlu waktu but that just so simple. Baiklah, berjalan memang fase yang terlalu cepat. Bagaimana kalau kita mulai dari fase berbicara? Awalnya hanya berupa ‘aaaa’, atau ‘eemmm’ tapi kalau aktif dikumandangkan seperti ‘maamaaa’ , suatu hari nanti dia akan mampu mengucapkannya (walaupun secara belepotan) ‘Maammmmaah’. Bagaimana awalnya dia bisa? Tentu saja dari meniru. 

     Setelah fase meniru sudah fasih ia jalankan, lalu otaknya secara mufakat akan memebesarkan volumenya seiring dengan fisiknya yang kian berkembang. Kini dia mengerti yang mana baik dan buruk. Membantu ibu menyapu adalah baik dan telat datang ke sekolah adalah buruk. Kini seragam merah putih telah menempel di badannya. Prestasi dan pujian datang secara silih berganti. Enam tahun berlalu dan ujian memasuki smp favorit tiba di depan mata. Dia tahu bahwa dia ingin menjadi yang terbaik. Perasaan berkompetisi yang awalnya kecil kian lama semakin menjadi dengan ambisinya. Dia pun berusaha dan mencoba. Sedih senang masa tk dan sd yang berwarna – warni kini harus mampu ia geser demi sebuah tujuan nyata yang telah ia incar. This is a real life.

     Masa smp mungkin dapat dikatakan masa rawan. Layaknya gerbang, kini dia sedang menuju kearah lain dari gerbang tersebut. Masa ini banyak diperbincangkan sebagai masa pubertas. Masa peralihan dari anak – anak menuju remaja. Masa dimana dia telah memiliki keinginan bebas untuk menentukan nasib sendiri. kalau terarah dengan baik maka ia akan menjadi seorang individu yang memiliki rasa tanggungjawab, tetapi kalau tidak terbimbing maka bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan dengan baik. (Stanley Hall, 1991). Dan seperti yang dikatakan tadi, biasanya fase ini muncul jelas ketika memasuki masa smp (Itu jika di Indonesia – biar gampang mengklasifikasikannya). :D

     Lanjut kepada dia, kini fisik dan mentalnya telah berubah. Dia kini menjadi pribadi yang ‘sedikit’ berbeda. Lebih bertanggung jawab, lebih giat belajar, lebih pintar berorganisasi, lebih care dengan kawannya, lebih sensi dengan lawannya, lebih dag dig dug dengan lawan jenisnya dan kelebihan lainnya yang pastinya lebih ribet untuk disebutkan. Disini dia masih belajar. Belajar untuk mengerti apa yang sedang dia rasakan. Sebuah perasaan. Bukan, mungkin banyak macam perasaan yang mengkungkung kehidupan barunya disini. Suatu sifat dasar seperti sedih, marah, senang, benci yang semakin ‘mengganggu’ hidupnya. Bahkan setelah memasuki masa sma pun, rasa itu tetap ada. Jika logika semakin terasah dewasa, mungkin fase ‘puber’ bagi perasaannya belum dapat dikatakan sempurna.

     Masa selanjutnya mungkin menjadi cukup berat. Dia kini telah menjadi seseorang yang (fisiknya) dewasa. Selalu tepat dalam mengambil keputusan dan jago dalam perkuliahan. Tapi tak jarang dia merenggut ataupun menangis disaat kehilangan sesuatu yang berharga baginya. Memanfaatkan waktu untuk sendiri sekedar merenungi perasaannya yang campur aduk atau berbagi cerita dengan teman baiknya. Baginya itu adalah saat yang mahal. Kesibukan yang menyita waktu kadang mengorbankan hal lain layaknya perasaan dalam perjalanannya. Ketika semua hal dituntut sempurna, akan ada ketakutan yang akhirnya bercabang menjadi bermacam negative thinking lain. Disaat logika menguasai keadaan, hal itu akan segera pudar dari dirinya. Pudar bukan menguap namun terpendam dalam dirinya yang menganggap bahwa hal itu tidak perlu untuk diurus.

     Feel. Rasa, Perasaan. Adalah sebuah hal yang membedakan dia dengan robot. Dengan itu, dia dapat terhenyuh saat melihat korban bencana tsunami di Jepang yang kehilangan rumahnya. Marah saat difitnah oleh kawan sendiri. Kesal karena kehilangan dan tidak mampu menjaga sesuatu yang berharga darinya. Sedih saat orang lain tersakiti karena dirinya. Puas saat dapat membuat orang lain tersenyum karena keberadaannya. Senang saat dirinya menemukan tujuan dari apa yang diperjuangkannya. Tidak semua orang dapat menjadi bahagia dalam waktu yang bersamaan. Dorongan perasaan sedih mendominasi dirinya dan yang pada akhirnya akan memunculkan ungkapan ‘pengorbanan’. Suatu hal yang dikorbankan demi kebaikan yang lain. Kadang dia tidak bisa menerimanya. Seiring waktu berjalan, dia pun mulai menerima keadaan itu dan berusaha yang terbaik untuk menjalaninya. ‘Ikhlas’ sepertinya kata yang cocok dalam situasi ini bukan?

     Dia, walaupun telah menjadi sukses ataupun miskin. Menjadi seorang gubernur, dokter ataupun pedagang kaki lima. Kehidupannya selalu dilingkupi oleh perasaan. Itulah dia. Dia adalah manusia. Hal itulah yang membuat manusia menjadi lebih menusiawi. Hal itu juga yang membuat manusia selalu mampu mensejajarkan dirinya dengan orang lain dalam level kebahagiaan yang sama. Manusia bukanlah robot. Sebuah prototype yang hanya melaksanakan program yang telah direncanakan. Layaknya perasaan defensive yang dirasakan ketika dia lahir kedunia. Perasaan bingung dan takut ketika menarik oksigen untuk pertama kalinya. Perasaan aman dan nyaman ketika berada dalam dekapan ibunya sesaat setelah melahirkannya. Dia, mereka semua, semua manusia telah dilatih untuk mengenal perasaan sejak dini. Untuk itulah, kenapa manusia sedari awal telah dikalahkan oleh perasaannya sendiri. Dikalahkan bukan untuk menjadikan manusia itu mencapai hal yang sia – sia tapi lebih kepada melatih dirinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. 

     Kalau anda? Bagaimana perasaan anda sekarang? Kalau boleh aku sarankan, hargailah perasaan apapun yang sedang anda rasakan sekarang maupun yang telah lalu. Tidak perlu takut dianggap lemah karena terlalu mementingkan perasaan. Tidak ada nilai ‘A’ dalam menentukan kadar sebuah perasaan. Namun tentu anda juga tahu bukan cara mengantisipasi jika ada perasaan yang keluar secara berlebihan? Kalau pada fase ini, diperlukanlah logika yang sesuai yang setidaknya mampu membuat diri anda tidak merasa dirugikan oleh perasaan itu. Akhir kata, kenalilah segala macam perasaan yang datang dalam kehidupan anda. Semakin anda mengerti makna perasaan itu, anda telah menjadi manusia seutuhnya. (yudha)

Footnote :
Kadang – kadang galau boleh koq. Labil dan menjadi ababil itu juga halal. Karena memang seharusnya hal itu terlewati. Setidaknya setelah melewati fase itu, kita jadi tahu yang mana yang terbaik untuk diri kita maupun orang lain bukan? :)

2 komentar:

kadek doi mengatakan...

memang perasaan terkadang jadi penentu arah langkah. mood ga mood juga jadi alasan saat akan melakukan suatu kegiatan, manajemen emosi tentunya sangat penting dalam hal ini, tapi saya termasuk orang yang menikmati setiap perasaan yg saya alami, temasuk galau. hidup galau! yuhuuu ^^b

A.A Ngr. Bgs. Kesuma Yudha mengatakan...

@doi : benar doi... perasaan itulah yang membuat human become real human :)
hidup galau ^^ *eh?!