Langsung ke konten utama

Generasi Muda Kreatif dan Berani - Edisi Tari Daerah





     Sebuah projek video satu menit. Tentang resistensi individu terhadap racun informasi. Yap. Informasi yang salah mampu membuat mental seseorang ikut berubah. Termasuk dalam hal berprestasi. Terlalu banyak mengonsumsi informasi yang tidak perlu layaknya info selebritis, penegakan hukum yang kacau dan lainnya mampu membuat karakter seorang individu menjadi pasif. Tidak percaya? Hidupkan televisimu pada saat prime time. Minimal goyang kejang yang disiarkan masif oleh beberapa stasiun tv sudah bisa kamu kuasai dalam waktu seminggu. Oh, atau berita tentang pengacara yang ditantang bertinju oleh anak seorang pesohor dalam dunia selebriti?  Ikuti semua itu and you will ended as junk.

     Mengaku kretif? Cari dan gali informasimu sendiri. Muak dengan televishit atau Koran yang penuh kebencian politik? Manfaatkan smartphonemu. Gunakan modemmu. Cari wifi gratisan. Minimal pergi ke warnet 3000-an di samping kampusmu. Gunakan waktu seminggumu dengan bijak agar tidak berakhir kejang – kejang di depan televisi berlanjut euphoria dalam kepala. Seperti grup tari daerah yang terpampang dalam video berikut ini. Mereka mencari informasi mereka sendiri. Menemukan informasi yang bahkan bisa digunakan untuk memotivasi diri sendiri. Dan kreatif serta berani bisa dimulai dari keadaan di sekitarmu, seperti mereka dan tarian daerah Bali-nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diperkosa angin di Batur yang dingin

     “Beneran nih ga apa? Serius nae yud,” suara seorang pemuda tanggung memecah suasana di balebengong sekitar kawasan pos jaga Batur. “Sante aja be, ‘mereka’ pasti datang. Tapi cuma ngeliatin aja koq,” jawabku di sebelahnya diikuti pandangan menunggu dari 1 pemudi dan 2 pemuda lainnya. “Oke, gini ceritanya, waktu itu aku dan adikku pernah ngeliat bayangan hitam gede banget waktu lewat di jalan (tiit),” pemuda yang bernama Abe itu pun memulai ceritanya. “Terus?,” tunggu pemuda lain yang bernama Kris sambil mulai memperhatikan dengan seksama si pemberi cerita. “Awalnya ku kira itu orang yang lagi diem di belakang pohon, eh, ga taunya…” mulai mencondongkan tubuhnya dan… PLAK! “Huwaaa! Apa tuuu?” baik Abe, Kris, pemudi yang bernama Novita, dan pemuda lain yang bernama Rendra lompat dari posisi mereka dan menubruk aku yang berada paling jauh dari suara berdebam tiba – tiba itu. “Tuh kan, iseng banget sih kalian cerita horor di jam 12 malam di kaki gunung Batur...

MENEMANI PERJALANAN PADA MASA PANDEMI

Pandemi kali ini membuat saya banyak menghabiskan waktu untuk diri sendiri. Mulai dari melaksanakan perkuliahan bagi mahasiswa saya secara online, kerja  remote , komunikasi lebih banyak menggunakan akses internet dan berbagai macam lainnya dalam kamar studio 5x4 meter di rumah. Keluar rumah hanyalah untuk membeli makanan atau mengambil foto dan video di alam bebas untuk keperluan  project  (tentunya dengan tetap mengikuti protokol kesehatan). Untuk memenuhi jumlah stok foto yang diinginkan, tentunya saya pergi ke beberapa daerah dan tidak jarang tempatnya saling berjauhan. Ketika berada di area yang cukup sepi, saya mencoba untuk berkomunikasi melalui   texting  WA dengan kawan. Pesan terkirim dengan cepat. Begitu pun kala mengirim  draft  foto dengan email.  Attachment  email sampai dengan selamat. Semua ini tidak lepas dari peran kartu smartfren UNLIMITED dengan Extra Unlimited Malam Full Speed yang masuk di  smartphone . Dengan pemak...

Puisi Anonymous – Sahabat

     Aku lupa kapan pernah pergi ke salah satu SD di daerah Sudirman, Denpasar. Karena harus mengurus suatu urusan yang belum terurus, jadilah waktuku harus teralokasikan sedari pagi disana. Dalam postingan kali ini, sesungguhnya dan sebenarnya, tidak bercerita tentang kegiatan yang kulakukan di SD bersangkutan. Namun lebih kepada puisi tempel dinding yang sekejap mengambil perhatianku dan mematungkan diriku dengan setiap kalimat didalamnya. Sangat polos. Sangat jujur. Sangat keren.