Apa
yang spesial di tanggal 10 Januari 2013 ? Bagi aku, jelas, itu adalah momen di
mana aku bertambah tua dan dirayakan dengan suka cita. Orang menyebutnya ulang
tahun. Sungguh aneh memang, manusia mengarungi langkah kedepan dalam perulangan
waktu dan jelas – jelas akan bertambah tua, eh, malah dirayakan :)) Sudahlah.
Tua itu pasti, dewasa itu mesti. Di umur yang perak ini aku mesti berfikir dan
berperilaku sedikit berbeda dari umur – umur sebelumnya. 25 itu bukan remaja
lagi apalagi anak – anak. Seperti batas. Aku merasa umur 25 seperti awal mula
pola kehidupan berbeda. Kalau diandaikan umur manusia itu 100 tahun dan dibagi
4 fase kehidupan, maka umur 25 adalah fase kedua dari kehidupan.
Berbicara
umur, rasanya aneh jika melihat beberapa waktu belakangan. Aku masih ingat
ketika berumur satuan dan belasan, otak ini hanya penuh oleh bermain dan
belajar. Jika tak ada sekolah mungkin aku akan bermain habis – habisan. Sempat
kesal jika dipaksa sekolah disaat masih mengantuk. Merasa marah ketika
diberikan pr (pekerjaan rumah) yang banyak. Takut saat masuk lingkungan baru. Begini
begitu, segala macam dengan berbagai perasaan yang beradu.
Memasuki
akhir belasan menuju kepala dua, terjadi guncangan lagi yang disebut remaja.
Mengenal daya tarik dengan lawan jenis walaupun masih selevel monyet. Belajar
bertanggung jawab kepada orang lain (kalau dulu tanggung jawab lebih banyak
untuk diri sendiri). Merasa canggung sekaligus takut jika mengambil video shoot
di kuburan atau tempat angker #yang ini serius:) Senang menemukan rekan yang
bisa diajak bekerja sama. Yah, sebuah pola lika liku masa sd – smp – sma yang
cetar membahana.
Lulus
sma, satu langkah dalam dunia yang “sedikit” berbeda. Semuanya menjadi lebih
konkrit di masa ini. Aku benar – benar bisa memilih. Tidak ada lagi peraturan
seperti sekolah S3 (sd – smp – sma) dulu. Apa yang kumau bisa saja kulakukan
saat itu. Aku bisa sekolah lagi dengan rajin atau menjadi berandalan dan drop out. Atau mencoba pengalaman lain?
Membantu orang tua mencari penghasilan dengan bekerja. Mungkin bersenang –
senang? Ya, melanjutkan masa senang – senang yang terampas karena harus belajar
formal 12 tahun. Atau aku ingin menjadi masyarakat mainstream? Mengambil kuliah dan berharap lulus lalu bekerja di
tempat bonafit. Yah, apapun yang bisa terjadi. Aku bebas memilih walaupun
dengan sedikit saran dari sana – sini. Sayangnya saat itu pemikiranku masih
mainstream. Aku pun kuliah.
Kuliah
pertamaku bermasalah. Bukan dengan aku nya tapi dengan institusi terkait.
Korupsi. Siapa juga mau hasil jerih payah orang tua disedot tanpa diimbangi kualitas
pendidikan yang mumpuni? Aku protes. Aku pun mulai berani memutuskan.
Memutuskan keluar dari institusi pendidikan itu. Memutuskan mendapatkan tempat
kuliah lain demi meredakan kemarahan orang tua karena keputusan sepihakku itu. Memutuskan
untuk ikut ujian dan (berharap) lolos dalam daftar mahasiswa baru di salah satu
universitas.
Berbekal
otak apa adanya, aku pun masih ingat ketika berinisiatif merubah pola hidup
sebulan menjelang tes masuk. Berbekal buku latihan soal yang kubeli di toko
diskon, aku melakukan pola belajar ketat. Setiap hari selama 2 jam. (well, 2 jam itu cukup berat bagiku) Dari
jam 8 malam hingga 10 malam. Sungguh merasa terpacu. Aku bersaing dengan waktu.
Jika gagal, tidak mungkin rasanya aji dan ibu bangga kepadaku. Begitu pikirku,
waktu itu.
Hari
yang dinanti tiba. Aku mengikuti ujian dan singkat cerita aku resmi menjadi
calon mahasiswa di kampus negeri. Tanpa suap karena… apa yang mau kujadikan
bahan suap? Hanya niat dan harapan ditambah buku diskon yang entah berada
dimana sekarang. Hari – hari berikutnya kujalani sebagai mahasiswa normal di
awal usia kepala kuda, eh, kepala dua. 4 tahun kurang menyelami kehidupan
bersama teman – teman baru. Suka, duka, cita, rasa dan sebagainya bercampur
menjadi adonan bekal pengalaman untuk kedepan. Di masa ini aku merasa sangat
berterima kasih pernah menjalani masa kecil yang penuh ‘tekanan’. Tekanan
belajar, dipaksa bertanggung jawab, menghargai hak, berempati pada hal yang
memang harus diberikan simpati, dan beribu – ribu bekal lain yang kudapat. Aplikasinya
semua telah diterapkan di masa ini secara total. Andaikan dulu belum pernah
seperti dulu, ah, entah apa jadinya aku sekarang…
Setelah
kuliah lalu bekerja. Diselingi membuat video dan ngeband. Dua aktivitas
terakhir sudah muncul mulai dari sma kemudian berlanjut kuliah. Area penyaluran
di luar kegiatan formal. Juga muncul pemikiran – pemikiran nakal yang menggebu
– gebu untuk mendobrak kehidupan yang monoton di masa ini. Kegelisahan menolak
kemonotonan berujung pada mimpi. Mimpi – mimpi yang ingin kuraih ketika umurku
bertambah nanti. Semakin deras menghujam bersamaan dengan kehidupan pasca
kuliah.
Hingga
kini mimpi – mimpi itu ternyata masih ada. Beberapa hal yang dulu pernah
kugaungkan, setengahnya telah kudapatkan tanpa sadar. Mungkin karena mimpi saat
itu masih abstrak. Rencana ke depan harus konkrit. Tidak ada lagi guru formal
mengarahkan atau teman sekolah yang mengajak beramai – ramai. Semua harus
terencana dan kujalankan sebaik mungkin. Percuma saja bisa men-direct video tapi men-direct kehidupan sendiri fail. Kugali lagi mimpi – mimpi itu. Apa
saja yang ingin kuraih untuk kedepannya? Perlahan namun pasti, semua keluar
seperti tetesan stalaktit. Mimpi lama bangkit kembali berkolaborasi dengan
mimpi – mimpi baru.
Saat
ini umurku seperempat abad. Not bad.
Dulu orang seusia ini kulihat sangat dewasa dan mapan. Tahu tentang segala
macam dan siap jika diposisikan di situasi apapun. Saat itu aku 17 tahun. Kini
aku 25 tahun. Teori abal – abal itu terbantahkan setelah berkaca pada diri
sendiri. Tidak sendiri namun ada beberapa teman yang mengalami hal sama. Mungkin
apa yang kupikirkan dahulu kini juga dirasakan oleh abegeh – abegeh 17 – 18
tahun ketika melihat manusia berusia 25 tahun di hadapan mereka. Who knows? Tell me when I’m wrong.
25
tahun sudah kutapaki di tahun ini. Masih banyak yang belum dijalani dari mimpi
yang telah kurangkai. Setidaknya saat ini belum terlambat untuk melanjutkan
kembali. Dibalik sendu cahaya lampu yang redup karena kedatangan dedalu, rasa
kantuk pun membelenggu Menandakan malam
semakin berkuasa. Sambil merenungkan hari besar perulangan tahun yang
bertepatan di hari raya Siwaratri kemarin, Aku pun menyadari, secara jujur, aku
masih perlu banyak belajar dalam kehidupan ini. Juga merangkai (lagi) mimpi
yang perlahan muncul dari masa lalu.
![]() |
Terima kasih kue nya Sukma Imma cantik :p |
Komentar