Langsung ke konten utama

Ini #SIKAP 1



Belakangan media massa memberi berita mencengangkan.
Berbagai hal yang tercermin minus dalam setiap artikel yang meruak pada masyarakat.
Penurunan kualitas manusia yang ditunjukkan dengan berbagai sikap pembunuhan. penganiayaan, pemerkosaan, ancaman.
Khusus untuk no 3, aku sangat tidak suka.
Sama tidak suka layaknya kebencian akut seperti duri yang tertinggal di dalam luka yang bernanah.
Dibenci, dihina, dikutuk.
Apa yang didapat dari menginjak injak masa depan gadis yang terenggut kesuciannya secara paksa?
Tidak ada! Pemerkosa yang mendapat kepuasaan dari kedegilan yang dilakukan, tak lebih tinggi derajatnya dari seekor anjing sekarat kudisan.
Rasa - rasanya anjing kudisan lebih memiliki nilai saat disejajarkan dengan mereka.
Merekalah cerminan amoral dari sistem masyarakat kita yang merdeka berdemokrasi.
Sistem yang belum siap dan berani membela hak kaum tertindas (korban perkosaan) melawan kenyataan yang (kadang) memiliki keberpihakan mata pisau.
Pelaku dikurung 5-10tahun dalam peraturan pidana.
Penerus bangsa belia yang telah terkurung trauma belum tentu bangkit dalam 2 dekade kedepan.
Dimana moral mereka sebagai pendukung stabilitas negara ini?
Sungguh nikmatkah merampas harapan yang kadung mereka binasakan?
Bagiku mereka sampah.
Pemerkosa adalah mahluk tak berotak, paling tidak bernurani yang pantas hidup dalam rimba,
Jangan, jangan rimba.
Itu terlalu bagus.
Lempar saja mereka ke padang pasir tanpa batas atau hamparan es kutub tak bertuan sebagai hadiahnya.
Sampai raga dan jiwa mereka tandas saat diperkosa alam.


ini #SIKAP

Komentar

Anonim mengatakan…
hwee,,dasar pemerkosa hak
@anonim : pemerkosa hak? hak siapa?

Postingan populer dari blog ini

Diperkosa angin di Batur yang dingin

     “Beneran nih ga apa? Serius nae yud,” suara seorang pemuda tanggung memecah suasana di balebengong sekitar kawasan pos jaga Batur. “Sante aja be, ‘mereka’ pasti datang. Tapi cuma ngeliatin aja koq,” jawabku di sebelahnya diikuti pandangan menunggu dari 1 pemudi dan 2 pemuda lainnya. “Oke, gini ceritanya, waktu itu aku dan adikku pernah ngeliat bayangan hitam gede banget waktu lewat di jalan (tiit),” pemuda yang bernama Abe itu pun memulai ceritanya. “Terus?,” tunggu pemuda lain yang bernama Kris sambil mulai memperhatikan dengan seksama si pemberi cerita. “Awalnya ku kira itu orang yang lagi diem di belakang pohon, eh, ga taunya…” mulai mencondongkan tubuhnya dan… PLAK! “Huwaaa! Apa tuuu?” baik Abe, Kris, pemudi yang bernama Novita, dan pemuda lain yang bernama Rendra lompat dari posisi mereka dan menubruk aku yang berada paling jauh dari suara berdebam tiba – tiba itu. “Tuh kan, iseng banget sih kalian cerita horor di jam 12 malam di kaki gunung Batur...

MENEMANI PERJALANAN PADA MASA PANDEMI

Pandemi kali ini membuat saya banyak menghabiskan waktu untuk diri sendiri. Mulai dari melaksanakan perkuliahan bagi mahasiswa saya secara online, kerja  remote , komunikasi lebih banyak menggunakan akses internet dan berbagai macam lainnya dalam kamar studio 5x4 meter di rumah. Keluar rumah hanyalah untuk membeli makanan atau mengambil foto dan video di alam bebas untuk keperluan  project  (tentunya dengan tetap mengikuti protokol kesehatan). Untuk memenuhi jumlah stok foto yang diinginkan, tentunya saya pergi ke beberapa daerah dan tidak jarang tempatnya saling berjauhan. Ketika berada di area yang cukup sepi, saya mencoba untuk berkomunikasi melalui   texting  WA dengan kawan. Pesan terkirim dengan cepat. Begitu pun kala mengirim  draft  foto dengan email.  Attachment  email sampai dengan selamat. Semua ini tidak lepas dari peran kartu smartfren UNLIMITED dengan Extra Unlimited Malam Full Speed yang masuk di  smartphone . Dengan pemak...

Soe Hok Gie : Catatan Seorang Demonstran (Resensi) - 2012

makanan ringan + bacaan berbobot       “ Saya dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik…” Sebuah catatan pada tahun 1957 tercipta dari tangan seorang generasi Indonesia keturunan Cina. Namanya Soe Hok Gie. Seseorang yang hidup pada era orde lama yang selanjutnya menjadi salah satu tokoh penting dalam pergerakan perubahan yang terjadi di Indonesia saat itu.