Langsung ke konten utama

Ngerebong (2011)



     Ngerebong memiliki keunikan tersendiri dalam penyelenggaraannya sebagai salah satu upacara adat di Bali. Ngerebong yang diselenggarakan di Pura Agung Petilan, Kesiman, Denpasar ini bertujuan untuk menyomia / menyucikan pribadi setiap umat yang ikut serta dalam prosesi upacara di Pura Pengerebongan. Yang menjadi menarik adalah proses ngurek (menusukkan keris ke anggota badan seperti dada, pundak, dll) sebagai bukti bakti pemedek (orang yang mengikuti upacara) terhadap Betara – Betari (dewa – dewi) yang pada saat itu berkumpul di pura Pengerebongan.

prosesi ngurek yang didominasi laki - laki

wanita yang menangis dan menari dalam kondisi trance

     Selain ngurek, ekspresi yang dikeluarkan pemedek antara perempuan dan laki – laki cukup beragam. Ada yang menari, menangis, berteriak histeris dan semua itu dilakukan diluar keadaan sadar (trance). Manifestasi yang berupa Barong dan Rangda yang disebut juga Ratu Gede dan Ratu Ayu memimpin para pemedek memutari areal wantilan di areal Jaba pura sebanyak tiga kali sesaat setelah upacara persembahyangan dimulai. Akan ada banyak orang yang memadati areal Pura. Orang – orang ini adalah gabungan pemedek dari beberapa Desa adat yang berada di areal Kesiman.

Barong / Manifestasi Ratu Gede

Rangda / Manifestasi Ratu Ayu
     
     Dokumentasi Ngerebong ini diambil pada tanggal 24 Juli 2011. Tepat pada hari Redite Pon Wuku Medangsia yang kalau didalam kalender Bali akan berulang setiap enam bulan sekali. Untuk hitungan yang lebih tepat, upacara Ngerebong biasanya terselenggara tepat seminggu setelah upacara Manis Kuningan. Upacara dimulai dari pagi namun prosesi ngurek dimulai pada jam lima sore waktu setempat. Setelahnya akan ada acara hiburan berupa tari – tarian, gamelan atau apapun untuk menghibur pemedek yang ada setelah upacara selesai hingga malam hari itu berlalu.

Dahi pun termasuk dalam 'target' ngurek

Pribadi yang berbeda ketika memasuki fase trance

Prosesi memutari wantilan dalam rangka membersihkan diri dari sifat  angkara murka

Komentar

perempuanpencintahujan mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
fahryB mengatakan…
Oh baru tau ini namanya Ngerebong, dari kecil penasaran tapi males browsing. Pernah denger cerita seremnya kalau ada yang tembus beneran, keren bli :D
@fahri : iya fahri. Semoga post ini bisa memberikan informasi yang diperlukan *walaupun tidak banyak sih :P
Terima kasih sudah berkunjung :D

Postingan populer dari blog ini

Diperkosa angin di Batur yang dingin

     “Beneran nih ga apa? Serius nae yud,” suara seorang pemuda tanggung memecah suasana di balebengong sekitar kawasan pos jaga Batur. “Sante aja be, ‘mereka’ pasti datang. Tapi cuma ngeliatin aja koq,” jawabku di sebelahnya diikuti pandangan menunggu dari 1 pemudi dan 2 pemuda lainnya. “Oke, gini ceritanya, waktu itu aku dan adikku pernah ngeliat bayangan hitam gede banget waktu lewat di jalan (tiit),” pemuda yang bernama Abe itu pun memulai ceritanya. “Terus?,” tunggu pemuda lain yang bernama Kris sambil mulai memperhatikan dengan seksama si pemberi cerita. “Awalnya ku kira itu orang yang lagi diem di belakang pohon, eh, ga taunya…” mulai mencondongkan tubuhnya dan… PLAK! “Huwaaa! Apa tuuu?” baik Abe, Kris, pemudi yang bernama Novita, dan pemuda lain yang bernama Rendra lompat dari posisi mereka dan menubruk aku yang berada paling jauh dari suara berdebam tiba – tiba itu. “Tuh kan, iseng banget sih kalian cerita horor di jam 12 malam di kaki gunung Batur...

Soe Hok Gie : Catatan Seorang Demonstran (Resensi) - 2012

makanan ringan + bacaan berbobot       “ Saya dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik…” Sebuah catatan pada tahun 1957 tercipta dari tangan seorang generasi Indonesia keturunan Cina. Namanya Soe Hok Gie. Seseorang yang hidup pada era orde lama yang selanjutnya menjadi salah satu tokoh penting dalam pergerakan perubahan yang terjadi di Indonesia saat itu.

MENEMANI PERJALANAN PADA MASA PANDEMI

Pandemi kali ini membuat saya banyak menghabiskan waktu untuk diri sendiri. Mulai dari melaksanakan perkuliahan bagi mahasiswa saya secara online, kerja  remote , komunikasi lebih banyak menggunakan akses internet dan berbagai macam lainnya dalam kamar studio 5x4 meter di rumah. Keluar rumah hanyalah untuk membeli makanan atau mengambil foto dan video di alam bebas untuk keperluan  project  (tentunya dengan tetap mengikuti protokol kesehatan). Untuk memenuhi jumlah stok foto yang diinginkan, tentunya saya pergi ke beberapa daerah dan tidak jarang tempatnya saling berjauhan. Ketika berada di area yang cukup sepi, saya mencoba untuk berkomunikasi melalui   texting  WA dengan kawan. Pesan terkirim dengan cepat. Begitu pun kala mengirim  draft  foto dengan email.  Attachment  email sampai dengan selamat. Semua ini tidak lepas dari peran kartu smartfren UNLIMITED dengan Extra Unlimited Malam Full Speed yang masuk di  smartphone . Dengan pemak...