Langsung ke konten utama

Cerita Senja


     Sore itu dia terbangun dengan keringat yang mengucur. Masih terlalu jauh baginya jika harus menyelesaikan jatah tidur siangnya. Sambil linglung dia bangkit dan mulai mencari segelas air putih untuk menghapus dahaganya.

  
      “Panasnyaaa….”, sambil ngedumel dia terus membetulkan posisi kepalanya yang kadang miring kanan, miring kiri sekedar untuk menghilangkan pusing setelah terbangun tiba – tiba. Saat itu jam menunjukkan pukul 17.45 waktu setempat. Namun yang berbeda dari saat itu adalah suasana sore yang berwarna merah. Dirinya terpaku melihat gradasi warna laten yang menguasai langit didepannya. Sambil terus minum Ia mulai meneliti fenomena itu di angkasa. Matahari yang terhalang sinarnya oleh awan cumulonimbus memberikan pemandangan yang mengasyikkan bagi manusia acak – acakan yang ada di bawahnya. 

    “Sepertinya ntar bakalan hujan deh”, Ujarnya seperti berkumur. Sambil mengingat mimpi absurd yang dialaminya tadi, pesona langit senja itu tetap menghipnotis matanya seakan – akan takut untuk tak dapat lagi dinikmati. Angin hangat senja memberikan sensasi yang cukup aneh saat bersentuhan dengan kulit. Nuansanya cukup klasik. Bukan dingin bukan juga panas. Seperti sedang beradu dalam satu waktu, matahari senja yang menurun semakin menegaskan perannya sebagai objek utama yang harus dinikmati lewat pemandangan langit merah yang terkadang berubah warnanya menjadi oranye.
40 menit berlalu. Warna merah itu telah pudar. Berbaur dengan sang awan yang kini telah menjadikan langit menghitam. Sungguh tak ada pemandangan yang bisa dinikmati. Seakan awan enggan beranjak dari tempatnya seperti matahari. Langit seakan terbungkus sesuatu. Tak diijinkan untuk melihat bintang. Tak diijinkan untuk menikmati indahnya sinar bulan. Hanya sebuah – dua buah kilatan cahaya menyilaukan yang berkedip di antaranya. Disusul suara gelegar yang diketahui sebagai petir. Rintikan air pun turun. Semakin lama semakin ramai. Menimbulkan beat konstan yang terus bertambah volumenya. Suasana kini semakin dingin. Setelah dikagetkan oleh suara petir ke tiga, dia pun tersadar dari lamunannya. Didapatkan dirinya duduk meringkuk sambil memeluk kakinya erat. Dia sadar satu hal. Dia begitu merindukan suasana senja. Dia kadang lupa untuk menikmati suasananya. Karena biasanya dia selalu terfokus oleh malam. Malam favorit yang diselingi oleh hujan yang selalu dapat ia nikmati dari balik jendela kamarnya. Dan untuk saat ini dia mulai memikirkan keindahan dan kerinduannya pada suasana senja. Suasana senja yang datang hanya sekilas namun sangat membekas di ingatannya kini. Saat dia terbangun, dia kembali melihat langit. Suasana hujan malam kegemarannya telah datang. Tapi seperti ada yang hambar dari situasi itu. Dia lebih menikmati suasana senja barusan. Suasana yang mampu membuatnya membeku untuk menikmati dan mengiringi perginya senja memerah di angkasa. (yo)

Komentar

Anonim mengatakan…
buiiikkk..
mangstab manehh !!
hahaha
jung yudha so melancoliee..
:p
lanjutkan, jung !!
hahaha, arigatou gek...
masih harus belajar dari master nya nieh... hohoho :P
*lirik little journey
Anonim mengatakan…
heh!
lirik - lirik..
bayarrr..
haha
:p
Bbbuuueeeh....

T,T
masternya ga maw ngajariiin....

Postingan populer dari blog ini

Diperkosa angin di Batur yang dingin

     “Beneran nih ga apa? Serius nae yud,” suara seorang pemuda tanggung memecah suasana di balebengong sekitar kawasan pos jaga Batur. “Sante aja be, ‘mereka’ pasti datang. Tapi cuma ngeliatin aja koq,” jawabku di sebelahnya diikuti pandangan menunggu dari 1 pemudi dan 2 pemuda lainnya. “Oke, gini ceritanya, waktu itu aku dan adikku pernah ngeliat bayangan hitam gede banget waktu lewat di jalan (tiit),” pemuda yang bernama Abe itu pun memulai ceritanya. “Terus?,” tunggu pemuda lain yang bernama Kris sambil mulai memperhatikan dengan seksama si pemberi cerita. “Awalnya ku kira itu orang yang lagi diem di belakang pohon, eh, ga taunya…” mulai mencondongkan tubuhnya dan… PLAK! “Huwaaa! Apa tuuu?” baik Abe, Kris, pemudi yang bernama Novita, dan pemuda lain yang bernama Rendra lompat dari posisi mereka dan menubruk aku yang berada paling jauh dari suara berdebam tiba – tiba itu. “Tuh kan, iseng banget sih kalian cerita horor di jam 12 malam di kaki gunung Batur...

MENEMANI PERJALANAN PADA MASA PANDEMI

Pandemi kali ini membuat saya banyak menghabiskan waktu untuk diri sendiri. Mulai dari melaksanakan perkuliahan bagi mahasiswa saya secara online, kerja  remote , komunikasi lebih banyak menggunakan akses internet dan berbagai macam lainnya dalam kamar studio 5x4 meter di rumah. Keluar rumah hanyalah untuk membeli makanan atau mengambil foto dan video di alam bebas untuk keperluan  project  (tentunya dengan tetap mengikuti protokol kesehatan). Untuk memenuhi jumlah stok foto yang diinginkan, tentunya saya pergi ke beberapa daerah dan tidak jarang tempatnya saling berjauhan. Ketika berada di area yang cukup sepi, saya mencoba untuk berkomunikasi melalui   texting  WA dengan kawan. Pesan terkirim dengan cepat. Begitu pun kala mengirim  draft  foto dengan email.  Attachment  email sampai dengan selamat. Semua ini tidak lepas dari peran kartu smartfren UNLIMITED dengan Extra Unlimited Malam Full Speed yang masuk di  smartphone . Dengan pemak...

Puisi Anonymous – Sahabat

     Aku lupa kapan pernah pergi ke salah satu SD di daerah Sudirman, Denpasar. Karena harus mengurus suatu urusan yang belum terurus, jadilah waktuku harus teralokasikan sedari pagi disana. Dalam postingan kali ini, sesungguhnya dan sebenarnya, tidak bercerita tentang kegiatan yang kulakukan di SD bersangkutan. Namun lebih kepada puisi tempel dinding yang sekejap mengambil perhatianku dan mematungkan diriku dengan setiap kalimat didalamnya. Sangat polos. Sangat jujur. Sangat keren.