Selasa, 24 Januari 2012

Pantai, Akses sebuah Tepi Jaman



     Pantai kadang membuat perasaan duka sekejap menjadi terlupa. Ada rasa yang timbul ketika melihat, mendengar dan merasakan deburan ombak yang berusaha menggapai raga. Saat favoritku adalah ketika menghabiskan waktu di pantai kala pagi maupun senja. Merasakan begitu besar ciptaan Tuhan ini jika dibandingkan posisiku yang tidak seberapa. Ikut berbahagia ketika cipratan air menyentuh pori – pori kulit dengan iringan angin yang nakal mengelus wajah. Kadang terdiam disaat penat dan kesal bercampur, hanya terduduk di tepi pantai berharap ombak membawa jauh perasaan ini ke tengah lautan.

Puisi Anonymous – Sahabat

     Aku lupa kapan pernah pergi ke salah satu SD di daerah Sudirman, Denpasar. Karena harus mengurus suatu urusan yang belum terurus, jadilah waktuku harus teralokasikan sedari pagi disana. Dalam postingan kali ini, sesungguhnya dan sebenarnya, tidak bercerita tentang kegiatan yang kulakukan di SD bersangkutan. Namun lebih kepada puisi tempel dinding yang sekejap mengambil perhatianku dan mematungkan diriku dengan setiap kalimat didalamnya. Sangat polos. Sangat jujur. Sangat keren. 

Minggu, 22 Januari 2012

Tarot, ga melulu mesti mistis




     Awan menggelayut mesra di atas langit Denpasar. Sedikit keramaian menyertai kawasan jalan Kamboja saat jarum jam mengarah pukul 10 pagi. Derai tawa anak – anak SD meruak hingga keluar jalan. Di lokasi yang sama, suatu acara yang bernafaskan remaja digelar di tempat yang diketahui bernama Rumah Pintar. “Sepertinya acara ini bakalan lanjut sampai sore deh,” Batinku saat baru saja memarkir skuter lucu di depan pintu gerbangnya.

Minggu, 15 Januari 2012

Diperkosa angin di Batur yang dingin



     “Beneran nih ga apa? Serius nae yud,” suara seorang pemuda tanggung memecah suasana di balebengong sekitar kawasan pos jaga Batur. “Sante aja be, ‘mereka’ pasti datang. Tapi cuma ngeliatin aja koq,” jawabku di sebelahnya diikuti pandangan menunggu dari 1 pemudi dan 2 pemuda lainnya. “Oke, gini ceritanya, waktu itu aku dan adikku pernah ngeliat bayangan hitam gede banget waktu lewat di jalan (tiit),” pemuda yang bernama Abe itu pun memulai ceritanya. “Terus?,” tunggu pemuda lain yang bernama Kris sambil mulai memperhatikan dengan seksama si pemberi cerita. “Awalnya ku kira itu orang yang lagi diem di belakang pohon, eh, ga taunya…” mulai mencondongkan tubuhnya dan… PLAK! “Huwaaa! Apa tuuu?” baik Abe, Kris, pemudi yang bernama Novita, dan pemuda lain yang bernama Rendra lompat dari posisi mereka dan menubruk aku yang berada paling jauh dari suara berdebam tiba – tiba itu. “Tuh kan, iseng banget sih kalian cerita horor di jam 12 malam di kaki gunung Batur yang sepi ini,” suara Ws memperingatkan dari balik sleeping bag yang Ia kenakan dan memang sengaja tidak ikut gabung dalam ritual cerita seram yang kami lakukan. “Hahaha, ga pa pa koq gung. Itu cuma suara sapu yang jatuh,” jawabku tenang sambil mencoba memperlambat tensi darahku yang naik secara laknat nan drastis. Padahal tu sapu sudah kutaruh di posisi yang ga mungkin jatuh, kok bisa ambruk ya? Padahal ga ada angin. Nah lo, mahluk halus yang diceritain Abe datang nih nontonin kita, pikirku. Glek.

Selasa, 10 Januari 2012

Liak liuk linimasa si bungsu



     Ruangan itu cukup bersih dengan diameter yang tidak terlalu lebar. Baik tembok, lantai, maupun atap ruangan itu senantiasa memberi salam kepada para mahluk lemah yang mulai menyapa dunia ini. Nasib itu pun mengikuti seorang bayi yang terlahir tanpa daya di tangan seorang bidan di awal tahun 1988.Dengan terus menangis meraung – raung, si bayi mencoba menyadari apa yang telah terjadi setelah terbangun dari pingsannya selama 9 bulan 1 minggu.